Selasa, 08 Desember 2009

BEST FRIEND FOREVER


Pagi yang cerah secerah hatiku yang berseri kembali. Aktivitas dipagi hari yang rutin kembali diaplikasikan, aku mendorong pagar dan secepat kilat menahan angkutan kota menuju kesekolah tercinta guna menuntut ilmu.

Matahari bersinar terang membuatku tak urung memicingkan mata dibalik jendela mobil. Sesaat angkutan kota dipenuhi para pelajar berseragam putih abu-abu dari berbagai sekolah, layaknya aku yang setingkat menengah dengan mereka, hanya saja aku merasa aku selalu berbeda. Lihat saja dari segi kostum, seragamku begitu berbeda dengan mereka. Setelan putih hijau yang entah aturan dari teori mana hingga seragamku diluar, namun begitulah aturan sekolahku khusus perempuan berkerudung sepertiku. Belum lagi bawaanku yang serba komplit yang bisa dibilang merepotkan, tas selempang yang bobotnya diatas rata-rata, menyandang map yang berisi setumpuk laporan serta tak lupa kotak alat pink ku yang selalu saja menjadi pusat perhatian. Namun begitulah resiko seorang pelajar sekolah kejuruan. Sedangkan mereka dominan pelajar SMU yang tak perlu repot-repot membawa barang bawaan yang berat, cukup menenteng tas trendy yang terselip beberapa buku didalamnya. Sungguh simpel.

Akhirnya aku tiba dijalan poros depan Universitas 45. Begitu aku turun debu membukit menyambutku. Yah beginilah situasi dan kondisi menuju kesekolahku yang jalananya kini dalam tahap pembangunan jembatan layang. Macet luar biasa sudah menjadi kebiasaan rutin diradius ini. Aku kemudian bergegas menyebrang jalan di area besar berharap Pak Polisi tak segan membantuku menyebrang. Namun sungguh harapan yang sia-sia, sebab Pak Polisi sekali lagi mengabaikanku, sama saja seperti pagi-pagi sebelumnya.

Jalan menuju sekolah tak begitu jauh, seringkali aku berpapasan dengan teman diperjalanan namun kini tak seorangpun tampak dihadapanku. Sejenak aku berpikir mungkin saja aku lagi-lagi terlambat kali ini. Kupercepat langkahku hingga menelusuri jalan yang disinari Sang mentari, ketika kusambut mentari itu untuk pagi yang kesekian kalinya selalu ku bisikkan dalam hati “ aku akan jadi mentari yang lebih terang darimu kelak, aku janji ”.

Ketika tiba di sekolah tak kusangka dan tak kuduga. Motor-motor yang biasanya memenuhi parkiran dengan sesak kini tak tampak satupun, begitu pula mobil-mobil guru dipelataran kiri, kini sepi. Apa yang terjadi pagi ini di sekolahku????

Aku melangkah perlahan melintasi gerbang berharap di dalam ada jawaban dari kebingunganku, namun alangkah terkejutnya aku ketika kudapatkan sekolah sepi tanpa sedikitpun tanda-tanda adanya kegiatan belajar mengajar.

“Apa yang kau lakukan disini???” Terdengar sebuah suara aneh dari arah belakangku. Secepat kilat aku berbalik dan melihat seorang perempuan berambut ikal menghampiriku.

“sa…saya…saya siswa di sini, jadi sudah sepantasnya saya disini” Jawabku dengan gemetar.

Aku sama sekali tidak mengenal perempuan itu. Perangainya sungguh rupawan, tinggi semampai dengan rambut ikal sebahu. Namun seragamnya tentu saja menggambarkan bahwa dia tidak bersekolah di sini sebab seragamnya layaknya siswa SMU lainnya, putih abu-abu. Aku tak tahu siapa gerangan dirinya dan mengapa dia berada di sekolahku.

“Saya ingin sekolah lagi” perempuan itu bersuara lagi namun sangat parau.

“Bi…bisakah kau jelaskan, apa yang terjadi di tempat ini? Ceritakan padaku apa yang terjadi? Tiba-tiba saja sekolah ini sepi? Mengapa? Dan….siapa kau sebenarnya?” pertanyaanku meluncur begitu saja dengan sejuta kebingungan.

“Saya Lestari..Saya ingin bersekolah lagi…bantu saya bersekolah lagi denganmu” lagi-lagi suara parau itu berbisik sangat halus.

Tiba-tiba saja aku merinding, kurasakan hempasan angin pagi menyelimutiku dengan kasar, ada rasa aneh yang merasuki batinku hingga kuputuskan tuk berjalan cepat keluar sekolah meninggalkan perempuan itu. Sejenak aku berhenti sesaat dan berbalik, namun tak kuduga perempuan itu mengikutiku dengan langkahnya yang gontai. Dengan sigap aku teruskan langkahku, dan berlari sekuat tenaga melintasi gerbang sekolah.

Hosh..hosh..hosh…dadaku sesak, kurasakan angin kasar itu terus saja menggeluti tubuhku, aku tak berani berbalik lagi. Aku tak tahu siapa dia dan apa yang diinginkannya.

***

“Terus apalagi dia bilang dil?” Tanya Lina yang sejak tadi mengusikku dengan berbagai bentuk pertanyaan.

“Ituji….” Ujarku.

“Kenapa nda tanya dia, sekolah dimana? asalnya dari mana? Atau klu nda tanya nama lengkapnya saja kan bisa kita cari di facebook identitasnya” cerocos Lina.

“Huh…cape deh, namanya juga mimpi mana bisa diatur sedemikian rupa jeng, kalau saya tau mau mimpi kayak gitu buatka daftar pertanyaan panjang dikertas buat itu cewek, baru pi tidur” jawabku dongkol.

“Sayangnya itu…padahal kan bisa dilacak…buat apa coba dia datang kesekolahta trus mau sekolah lagi. Maksudnya???” Lina mengkerut bingung.

“We maumi masuk pak Imu, nantipi lagi dilanjut nah….dahhh”.

Aku bergegas bangkit dari bangku depan musholah , melintasi koridor, menyusuri tangga naik ke lantai dua dan masuk keruangan kelas 2A. Yeah, meskipun kini aku sudah beranjak kelas 4 namun posisiku kini tak membuatku begitu nyaman sebab kami tak punya kelas. Kami selaku siswa kelas 4C harus berlapang dada mengungsi di kelas kosong tiap harinya. But No pRoblem, Now MR. Handsome enter in the classroom. I am ready to Learn English.

Aku sangat senang bila berhadapan dengan pelajaran ini. Sebab gurunya sangat menyenangkan. Aku pikir tak hanya aku saja yang merasa demikian.

Pelajaran berlangsung dengan atraktif dan efektif. Namun disela-sela itu selalu saja sketsa-sketsa mimpiku semalam mengusik otakku. Hhh apa yang terjadi padaku, siapa dia sebenarnya.

Tiba-tiba saja aku mendengar suara yang sangat halus dari arah sudut kiri belakang. Suara tangisan mendera, parau dan sangat lembut. Sungguh perasaanku jadi tak menentu, kali pertamanya aku mengabaikan pelajaran pagi ini dan fokus mendengar nada-nada aneh itu. Pikiranku melayang sampai-sampai aku tak sadar teman sebangkuku menyikut perutku.

“Dila..nomor 4” spontan QQana membuyarkan lamunanku. Rupanya giliranku untuk menjawab soal. Hhh siapa sih tadi yang menunjukku, batinku kesal.

***

“Dila, rapat dewan seben jam 1” tegur Shaito bendahara dewan.

“Yupz..ok”

“Kenapako pucat?”.

Oh No! betulkah?? Sejak kejadian tadi pagi aku merasa tubuhku teramat lemas. Bulu kudukku terus saja merinding. Mungkinkah perempuan yang ada di dalam mimpiku semalam ada hubungannya dengan suara itu. Kucoba untuk melupakan segalanya, berharap tak mengusikku lagi. Sebab aku percaya semua ini hanya halusinasi akibat keseringan nonton film horror. Yah, maybe.

“Begadangka semalam, jadi yahhh agak mengantukka”.

“Ke sanggarka pale nah. Ingatko seben”.

“Siiip..”

Kutelusuri jalan panjang koridor dan masuk kemushollah. Tak lama lagi Adzan dzuhur dikumandangkan. Meskipun kecil namun musholah ini menjadi saksi sepak terjang kami hingga kami beranjak kelas akhir kini. Kadang-kadang sepi namun kadang-kadang juga jamaahnya membludak. Apalagi di bulan ramadhan seperti ini. Eitssss ini bulan Ramadhan. Yap, berarti semua halusinasiku yang mengusikku sejak tadi fana, bukankah setan-setan dibelenggu??

Allahu Akbar…Allahu Akbar

Syukurlah suara azan membuyarkan lamunanku.

***

Disinilah diskusi singkat itu terjadi. Lina, QQana, Melani, Iswan, Imran dan aku sendiri menjadi selaku peserta diskusi. Dan tahukah kamu apa yang kami diskusikan???

“Kalo nda salah memang dulu seragam sekolahta masih putih abu-abu” ujar Melani

“So, apa hubungannya?” tanyaku

“Ndaji iya….sapatau toh…itu yang dalam mimpimu pernah sekolah disini tapi DO ki baru……….”

Topik kearah mistis ini dimulai dari Imran.

“Baru apa Imran??”cerocos QQana tak sabar

“Nda usahmi dilanjut deh, merindingka” kataku gusar

“Klo mimpiko lagi itu cewek, salamku nah” potong Imran lagi dengan santainya

Iswan dan Lhina yang sejak tadi diam tak ikut berkomentar. Yah, kami selalu maklum pada mereka. Mungkin saja mereka rela bicara kalau di bayar. Hehe ga bosan tuh diam seribu bahasa!!

***

Malam ini sungguh sulit aku memejamkan mata. Padahal jika aku begadang lagi kali ini, bisa-bisa aku susah bangun sahur lagi. Mataku terlalu lelah, namun mengapa sulit sekali tuk dipejamkan. Kuputuskan tuk keluar di balkon rumah, yah sekedar mencari angin malam. Namun bulu kudukku merinding lagi, sketsa-sketsa mimpi itu datang lagi merasuk otakku. Ya Allah mengapa ada hal seperti ini di RamadhanMu. Kucoba melawan keanehan itu berharap kali ini aku hanya terganggu dengan rasa ngantuk diambang batas.

Aku kembali kekamar dan mencoba memejamkan mata tuk kesekian kalinya. Hhhh namun tak bisa lagi. Aku bangkit dan meraih note kecil milikku lalu perlahan aku menulis..

Dear malam,

Mengapa malamku begitu kelam, mengapa bayangan-bayangan itu terus saja mengusikku.

Sungguh aku merasa ada keanehan yang menjadi misteri. Aku berharap setelah ini aku sudah bisa tidur.

Telepon genggamku berdering dengan nomor kontak yang tak terdeteksi alias Tak Ada Nomor.

Hmmm begini nih yang paling aku tidak suka, mau nelpon saja masih pengecut! Batinku kesal

“Assalamu alaikum” sapaku

“Halo….dila ini?” Tanya seorang perempuan dengan suara yang memekikkan telinga.

“ Yupz..sapa ni?”

“Lutviah….temen SDmu….kita ingatjka??” Tanyanya penuh harap

“Lutviah….hmmm lutviah yang mana di….kulupa sekali….maaf maaf”

“Ih dila masa kolupaka….temen SD ki, waktu kelas 1 sampe kelas 2”

“Wihhh seriuska….saya lupa sekali, dimana kita dapat nomor hapeku”

“Saya dapat dari Anggi, Anggi susah payah cari? Kita kenalji Anggi toh?”

Waduh sapa lagi tuh Anggi, betul-betul membingungkan.

“Anggi yang mana???perasaan nda ada temenku yang namanya Anggi”

“Memang cepatjeka sekolah sampe kelas 2 ji baru pindahka, samaka Anggi. Biasaja datang kesekolah sudahnya itu, kadang-kadang sama Anggi tapi kadang-kadang juga sama lestari”

Huh ada lagi nama baru, sapa sih mereka ini.

“Maaf banget….maaaf banget bukannya saya sok sok nda kenal atau sombong tapi suerrr saya nda ingat sama sekali kalau kita pernah sekelas”

“Begitumu dila, padahal biasaja lagi datang dalam mimpimu”

“Hah….apa maksudmu???” Tanyaku penasaran

Tiiit Tiit Tiit. Putus.

Oh my God! What happen?? What Is The matter???

Bisa-bisanya akhir-akhir ini aku dihantui beruntun oleh keanehan-keanehan ini. Padahal ini kan bulan suci, bulan Ramdhan, bulan dimana hal-hal gaib dibelenggu.

Sekilas aku mengingat-ingat percakapan telepon tadi. Dia adalah seorang perempuan yang bernama Lutviah, biasa masuk kedalam mimpiku, punya teman bernama Anggi dan…dan…..Lestari.

Kucubit tanganku berharap semua ini hanya mimpi namun, Ouw sakit, rupanya ini bukan mimpi. Apa ada seseorang yang mengerjaiku kali ini??tapi siapa??

***

“Mengakumoko deh” tegasku menghardik.

Yap. Saat ini aku sedang menghakimi mereka yang menjadi peserta pada diskusi kemarin, QQana, Melani, Lina, Imran dan Iswan. Karena hanya mereka yang mengetahui soal mimpi itu. Barangkali saja ada salah satu diantara mereka yang mengerjaiku semalam, sebab ada nama Lestari yang terselip ditelepon.

“Untuk apa juga mengerjai, kita saja takut-takutki…” sahut QQana

“Bukan saya itu bela..” ikut Imran membela diri

“Lebih-lebih saya…kurang kerjaan banget ngerjain orang..” cerocos melani

“Sudahmi nda usahmi kopikir, mending pi online, ayo deh!” ajak Lina mengakhiri diskusi

“Huuffft up to you dehhh, daripada saya mikir nda jelas” ujarku

Namun dalam hati aku berbisik, jadi siapa Lutviah itu? Siapa Anggi itu? Dan Lestari..??

***

Akhirnya aku tiba dirumah usai sekolah. Segera kubuka pagar dan melangkah gontai kedalam rumah. Di depan pagar ada sepatu dan sendal yang tak ku kenal, aku pikir sudah pasti ada tamu yang datang. Dan dugaanku benar ada dua orang perempuan yang sejak tadi menatapku, sembari duduk disofa.

“Hai Dila!” sapa salah satu dari mereka

“Hai juga semua” sahutku

Aku hanya sekedar menyapa sebab aku tak mengenal sama sekali kedua orang ini.

“Kenalkan…saya Anggi dan dia Lutviah” ujar perempuan berkulit sawo matang mengulurkan tangan.

“saya dila”

“Hehe kita tauji…daritadi kita memang kesini mau cari dila” Terang Anggi lagi

“Oh..iya saya masih ingat sama telepon kemarin, ada yang namanya lutviah dan Anggi dan ada juga yang namanya lestari toh, tapi sebenarnya saya belum ingat, lupa sekalika” kataku menjelaskan

“Hmm maaf kemarin saya kasi bingungki, kemarin saya takut-takutiki ditelpon bilang saya biasa datang kedalam mimpimu, yah itu karena agak jengkelka karena kau nda ingat kita bertiga, padahal dulu pernahki bersahabat selama dua tahun” kini Lutviah yang angkat bicara

Sumpah! Aku masih belum ingat juga, meski mereka menjelaskan panjang lebar.

“Tapiii…saya masih belum ingat” ujarku dengan nada pelan

“Sudahmi dila, janganmi kau paksakan, ingat atau tidak intinya kita cuman mau sampaikan berita duka. Setahun yang lalu tepatnya 3 bulan menjelang UAN, sahabatmu, sahabat kita bertiga, Lestari meninggal dunia…” dengan tegas Lutviah menyampaikan.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun

Meski jujur aku masih belum ingat mereka, namun ada rasa bersalah direlungku sebab mereka semata-mata ingin menyampaikan berita duka. Aku sangat malu.

“Sebenarnya kami nda kepikiran mau cari kau, tapi kamulah sebenarnya yang paling dekat dengan almarhum lestari, karena dia menitipkan ini seminggu sebelum meninggal. Rencananya kita ingin sama-sama mencari kamu tapi yahh dia almarhum duluan karena kanker otak akut” Anggi memberikanku sebuah amplop biru kecil yang entah didalamnya terselip apa. Aku sangat penasaran.

“Dia kenal ka lestari kah??”tanyaku

“Jelasmi, karena dia sahabatmu, sahabat kecilmu”

“Dila, pulangmaki dulu nah, saya harap nanti kalau kita kesini lagi, kau sudah ingat sama kita berdua” pamit Anggi

“Kenapa cepat sekali, sejam lagi buka puasa, lebih baik buka puasa disini saja bareng-bareng” ajakku ramah.

“Aduh sayang sekali, sudah ada janji buka puasa duluan, makanya kita buru-buru pulang” potong Lutviah

“Iye pale, rajin-rajinki datang kesini nah kawan. Hati-hati dijalan”

“Ok Dila, pulang dulu nah, Assalamu Alaikum”

“Waalaikum Salam”

***

Makassar, 03 Januari 2008

Dear Dila,

Dimanakah kamu kini? Aku sangat merindukanmu. Sudah 10 tahun lebih kita tidak bertemu, ada keinginan untuk mencarimu, namun sungguh aku tak tahu kamu dimana. Aku tidak akan pernah melupakanmu meski kau diluar sana sudah tidak mengingatku lagi, karena kamu yang membelaku pada saat aku diejek sama temen-temen lain karena bodoh, yah sebab waktu itu saya jujur memang belum bisa baca tulis. Kuharap kau membaca surat ini, kuharap kau tidak pernah melupakanku. Sesungguhnya aku ingin bersekolah lagi denganmu, semoga kamu disana selalu terjaga. Sahabat kecilmu,

Lestari

Aku terharu dengan isi surat ini, meski sekali lagi kutegaskan, aku tidak mengenalnya. Namun selain surat itu ada kertas lain yang terselip di amplop tersebut. Sebuah foto klise dua anak perempuan yang sedang tersenyum sumringah dibawah pohon pala sembari bergandengan tangan. Kedua anak itu mengenakan seragam SD, dengan batik merah dan rok merah. Tentu sa ja aku mengenal salah satu anak perempuan diantara mereka, itu aku saat masih dini. Namun, anak perempuan yang satu lagi aku sama sekali tak mengenalnya. Mungkinkah dia yang namanya Lestari??

Dibalik foto itu ada tulisan cantik, MY BEST FRIEND FOREVER

Yap. Inilah rahasia zaman, selalu saja menjadi misteri. Kisah-kisah ini yang tadinya aku pikir ada hubungannya dengan sekolahku kini, ternyata tidak. Mungkinkah dia Lestari yang datang kedalam mimpiku, yang menyapaku di Sekolahku yang sepi??

Untuk Lestari yang ada di sana, semoga kau tenang di sisiNya. Meski aku masih belum mengingatmu juga, namun batinku berbisik kita pernah menjalin persahabatan yang kokoh, Aku tidak akan pernah melupakanmu, sahabat kecilku, Lestari.

dhilaneutron

Tidak ada komentar:

Posting Komentar