Kamis, 29 Oktober 2009

I LOVE U 42 COMMUNTY



Yahhh, Kejadian antah berantah itu memang sulit dihindari, pertikaian sesama pelajar kini sudah menjadi realita yang musiman sepanjang zaman. Lihat saja topik panas hari ini, seharian menjadi masa-masa mencekam sebab otak mereka para pelaku pertikaian terus saja panas dengan tempratur memuncak. Bukan basa basi tapi ini nyata terjadi di sekolah kami Senior High School Of Chemical Analyst sebuah sekolah kejuruan yang memiliki notebande yang katanya siswa-siswanya cemerlang ini rupanya disisi lain punya otak-otak brandalan. Tapi semua ini beralasan, sebab kami setiap angkatan di Sekolah ini memang meninggikan solidaritas yang kuat serta harga diri yang tak akan pernah rapuh. Utamanya angkatanku, angkatan 42.

Saat itu aku sedang mengerjakan Tugas penjaskes di ruangan kelas 3A yang bangkunya sudah seliweran tak beraturan. Jam telah menunjukkan pukul 1 siang. Pelajaran juga telah usai tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk praktik olahraga sore. Ada yang tinggal di kelas, sembari menunggu waktu olahraga sambil mengerjakan tugas penjaskes, ada juga yang memilih pulang ke rumah untuk istirahat. Aku sendiri lebih memilih mendekam di kelas dikarenakan tugas penjaskesku belum rampung.

Tiba-tiba saja ada keributan di koridor depan kelas. Ada apa ini, pikirku penasaran. Aku dan teman-temanku akhirnya beranjak keluar kelas. Rupanya keributan itu dipicu oleh pengeroyokan-pengeroyokan yang tak jelas. Sejenak aku ikut menyaksikan aksi tawuran itu tapi tiba-tiba saja sekelompok pelaku tawuran itu berganti haluan ke area tangga sudut. Sungguh aku tak paham apa yang terjadi. Dua sekumpulan angkatan sedang ricuh dihadapanku. Yap, salah satunya adalah angkatanku 42 dan satunya lagi angkatan di bawah kami 43. Bisa-bisanya mereka menantang kami secara mereka nyata-nyatanya hanya junior yang seharusnya menghormati kami, batinku kesal.

Aku terpaku menjadi saksi di tempat itu. Meski tak ada yang bisa kulakukan namun aku menyaksikan segalanya dengan mata kepalaku sendiri. Serang saling serang. Itulah yang menggambarkan situasi pada saat itu. Sekolah mendadak menjadi sangat kacau. Bising di mana-mana. Adu mulut antar sesama pelajar juga sulit di hindarkan. Guru-guru pun mengambil alih urusan guna melerai, namun sama sekali tak ada perubahan alias sia-sia sebab mereka benar-benar memanas. Akhirnya lama kelamaan ada juga guru yang mulai melerai hingga mereka pun lengah.

Guru-guru menyuruh kami bubar, sekongkolan yang memberontak tadi saling membela diri dalam pengakuan dihadapan guru, sementara kami yang tak terkait harus meninggalkan lokasi tawuran itu.

Aku kembali ke kelas dan mulai bertanya-tanya pada yang lain. Rupanya kejadian tersebut ada sangkut pautnya pada peristiwa saat kegiatan Pramuka pada hari sabtu. Saat itu seingatku memang ada perselisihan kecil di lapangan dikarenakan junior kami selaku Bantara mulai kurang ajar. Satu sama lain tak ada yang mengalah alhasil saling cekcok itu pun sulit dihindarkan lagi antara senior dan junior.

Dan kini situasi itu pun mulai memanas lagi. Tiba-tiba saja ada salah satu temanku yang masuk ke dalam kelas dan mengabarkan bahwa kita semua harus meninggalkan sekolah saat ini juga alias pulang. Itu disebabkan karena tawuran di luar di mulai lagi. Ck ck ck mengapa semua ini bisa terjadi sihhhh???

Aku lekas membereskan buku-bukuku dan memasukkannya ke dalam ransel. Bergegas aku dan teman-teman lain ke luar kelas. Yahh kalau sudah begini kondisinya tentu saja praktik olahraga sebentar lagi ditiadakan. Beberapa guru menyuruh kami untuk secepatnya mengosongkan sekolah. Kegiatan belajar mengajar di kelas-kelas lain pada saat itu dihentikan juga.

Aku melangkah menyusuri koridor, sepanjang jalan setapak sekolah aku melihat semua siswa-siswa lain kebingungan. Namun sejenak aku terpana ketika aku menyaksikan di depan mataku aku melihat salah seorang guru yang seharusnya menjadi tauladan memukul salah satu temanku yang menjabat sebagai ketua PERSAMA , dengan batang kayu sapu ijuk. Bukan main terkesimanya kami yang melihat. Tidak hanya sekali ia memukul namun berulang-ulang kali, alasanya karena Syahdan, ketua PERSAMA ku itu tidak becus menangani keributan itu padahal dia pemimpin malah ikut mempelopori peristiwa, katanya. Tak terasa air mataku mulai mengalir melihat peristwa ini. Aku kasihan melihat Syahdan dipukuli, aku kecewa melihat guruku main hakim sendiri, padahal sungguh ini bukan salah Syahdan.

Saking memuncaknya kemarahan salah satu guru itu, akhirnya kami harus mempercepat langkah keluar sekolah, siap siaga agar kayu panjang itu tak menyentuh kami yang lain.

Di luar sekolah, rombongan siswa-siswi SMAK berseliweran. Ada yang segera pulang, namun ada juga yang mengawasi sekolah disekitar poros jalan. Entahlah, mungkin saja di antara mereka masih ada yang akan melanjutkan perang kemudian ataukah sekedar ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Guru yang marahnya memuncak tadi lekas keluar sekolah masih dengan sebilah kayu panjang di genggamannya. Kami tentu saja lari ketakutan. Beberapa dari kami harus meninggalkan lokasi.

Huffhhhttt rasanya lelah juga hari ini, batinku. Di sela-sela keributan tadi aku merasa besok kami semua akan di adili. Yap!!!! Ternyata dugaanku tepat 100 %.

***

“Kalian merasa jago kah? Kalau iya, sekarang maju kedepan yang merasa jago” hardik Pak Rasyid selaku Wakasek kesiswaan.

Peluh, keringat mengucur luar biasa, di atas kami sinar mentari menyapa dengan teriknya. Sesuai dengan dugaanku, kini kami semua yang terdiri dari dua kelompok angkatan yakni 42 dan 43 sedang diadili di lapangan utama sekolah. Kali pertamanya aku merasakan dijemur di bawah panas matahari serombongan dengan kawan-kawan lainnya. Karena kasus ini mengenai tawuran angkatan alhasil seluruh siswa yang tergolong dalam angkatan pertikaian tersebut harus menanggung konsekuensi ikut dijemur meskipun diantaranya hanya warga sipil yang tak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Sekarang, yang merasa tersangkut paut perkelahian kemarin maju ke depan” teriak Pak Rasyid sekali lagi. Kami tahu sekali ia sangat kecewa pada peristiwa ini.

Satu persatu dari kami mulai maju ke depan. Semakin banyak dan semakin banyak. Aku pun tak segan-segan ikut maju ke depan meramaikan. Sementara angkatan 43, musuh bebuyutan kami pada saat itu hanya beberapa orang yang ikut andil maju ke depan.

“Tidak mungkin sebanyak ini” kata Pak Sahar selaku guru Biologi. Ia tampak kebingungan melihat kami yang semakin bertambah maju ke depan.

“Kan, Bapak bilang tadi yang tersangkut paut. Saya tersangkut paut Pak sebagai saksi kejadian” Tegasku dengan suara lantang. Beberapa teman yang lain ikut mengiyakan.

“Kalau begitu, pisahkan yang mana saksi yang mana pelaku perkelahian” Kata Pak Rasyid sekali lagi.

Sementara angkatan 43 di seberang sana mulai memenuhi jalanan kembali ke kelas masing-masing bagi yang tak tersangkut paut.

Tersangka-tersangka tawuran kemarin mulai di adili. Mereka saling berdebat argument membela diri di depan guru-guru. Kami pun selaku saksi ikut menyatakan pernyataan peristiwa selayaknya saksi dengan berjuta informasi kejadian. Akibatnya saling cekcok terjadi lagi.

Guru-guru akhirnya mengambil keputusan, kami yang tidak ada urusan dengan peristiwa kemarin termasuk saksi lebih baik kembali ke kelas. Karena keberadaan kami menurut mereka hanya menambah kerumitan masalah.

Namun kami bersikeras tetap di tempat. Karena kami tentu saja tidak akan membiarkan teman-teman kami selaku tersangka tawuran kemarin di hakimi habis-habisan di bawah terik matahari. Lebih baik kita satu rasa kepanasan sobat, pikirku.

Saking dongkolnya para guru menghadapi keras kepalanya kami. Akhirnya kami semua dipindahkan tempat dari lapangan utama depan sekolah ke pelataran lapangan tengah di dalam sekolah. Alasannya lapangan depan terlihat dari jalan poros depan sekolah sehingga kami hanya jadi tontonan masyarakat sekitar.

Di lapangan tengah sekali lagi Pak Rasyid menegaskan bahwa yang tidak ada urusan lebih baik kembali belajar, tidak perlu ikut campur.

Kami tetap keras kepala juga, tetap siap sedia di tempat.

Inilah dia aksi kami selaku angkatan 42 yang kemudian jadi tontonan isi sekolah. Kami dijemur lagi dilapangan tengah. Semuanya (Satu Angkatan) tanpa terkecuali. Bagi kami solidaritas jauh lebih penting diatas segalanya. Meski keringat terus saja bercucuran namun motto kami tetap utuh didalam hati. Jika kau bisa membacanya terpapar jelas di masing-masing jidat kami bertuliskan “SOLIDARITAS PERLU DIJUNJUNG TINGGI, TAK PERDULI SIAPA YANG MENJADI TERSANGKA NAMUN DI OTAK KAMI, KAMI SEMUALAH SEBAGAI TERSANGKA KARENA KAMI BUKAN PENGECUT DAN KARENA KAMI SEJATI TERHADAP ANGKATAN KAMI, HIDUP 42”

Aku bangga dengan angkatanku, angkatan 42. Sama-sama berbuat, sama-sama kena hukuman. Namun kekompakan itulah yang membuatku mengerti arti dari sebuah Persahabatan dan Persaudaraan. I LOVE U 42 COMMUNITY. Kisah kita tah akan lekang oleh waktu.

Dhilaneutron

MOSHI--MOSHI


Niyyy Blog emang Jelek...Norak....Ga da menarik-menariknya kata Kak ILHO...huh sirik berangkali

But EGP yang penting saya sudah punya blog......

Kendala yang paling utama adalah...

Membuat Artikel-Artikel disini........

Hufffhh Saya sihhh suka nulis,,,tapi paling nulis laporan..........

So, Yang ditulis ala kadarnya saja........yang jelas bukan kutipan Lho...

Suer,,,saya bukan plagiat....